Setiap orang pasti berharap mendapatkan pendidikan yang terbaik dalam hidupnya. Akan tetapi kenyataannya tidak semua orang bisa memperoleh kesempatan ini. Saya tidak perlu menyalahkan siapa-siapa atas kondisi ini, meski saya kadang sedih melihat kenyataan ini. Saya berharap semua orang mendapatkan haknya, sehingga mereka dapat hidup layak sebagai manusia. Saya tidak ingin berbicara tentang mereka yang oleh kenyataan tidak bisa memperoleh hak akses pendidikan. Tetapi kali ini saya ingin mengajak mereka yang memperoleh kesempatan untuk kuliah agar memanfaatkan kesempatan kuliah mereka dengan baik. Read the rest of this entry »
Hingga saat ini, kita belum sadar pada dasarnya kita masih berjalan pincang dengan ketakwaan dan kesalehan kita. Di satu sisi kita memiliki kesalehan personal yang tinggi pada Tuhan sementara di sisi lain hak-hak sosial dalam diri kita masih sering kita acuhkan. Atau sebaliknya, kesalehan sosial berada pada prioritas tertinggi dalam kewajiban kita, sementara penyembahan terhadap Yang Maha Agung tidak kita laksanakan.
Suatu pagi di bulan Pebruari 2007 saya menonton siaran salah satu televisi swasta yang ketepatan pada saat itu ada kajian dari salah seorang Pendeta yang saya kurang tahu namanya (karena saya tidak melihatnya dari awal). Pendeta itu menyampaikan sebuah cerita yang membuat saya begitu terkesan dengan cerita itu. Pendeta itu bercerita begini:
Luar biasa. Inilah apresiasi saya terhadab buku ini, sebuah buku biografi kesuksesan. Benar-benar buku yang menceritakan kisah perjalanan seorang pemberani, sebagaimana disebutkan oleh Julianto Eka Putra dalam Komentar Kekaguman-nya. Seorang pemberani bukanlah orang yang tidak takut sama sekali, sebaliknya ia bahkan sering tercekam rasa ketakutan. Akan tetapi bagi sang pemberani, ketakutan bukan menjadi momok yang akan menyurutkan niat dan tekad mereka untuk maju. Tetapi ketakutan menjadi cambuk yang mempercepat perjalanan usaha mereka.